EXCHANGE LOW SELF-ESTEEM (RENDAHNYA NILAI TUKAR HARGA DIRI)

by alfand | posted in Change we need | on July 20th, 2010

uangRENDAHNYA NILAI TUKAR HARGA DIRI
EXCHANGE LOW SELF-ESTEEM
為替低い自尊心

Setelah banyak mendengar pemberitaan yang begitu heboh SOAL LUNA MAYA-ARIEL DAN CUT TARI, serta berbagai komentar dari berbagai kalangan masyarakat, baik pemerintah, tokoh masyarakat, tokoh agama, ataupun rakyat biasa, saya menjadi lebih mengerti dan lebih tahu, bahwa memang beginilah cara hidup dan cara masyarakat ini berfikir .

Tanpa bermaksud membenarkan pola pikir diri sendiri, tetapi memang setiap orang akan memiliki cara pandang dan cari hidup mereka masing-masing yang tidak akan sama satu dengan yang lainnya.
Ketika seorang petinggi KPAI berkata bahwa kesalahan mutlak berada di tangan Ariel Cs, karena dengan adanya rekaman video mesum mereka anak-anak Indonesia menjadi korban, orang-orang tua menjadi paranoid jika harus memberikan Fasilitas komunikasi seperti Laptop atau Handphone.

Pendapat KPAI ini menurut saya sangat tidak terhormat, kenapa ?
Menurut saya, orang KPAI justru sengaja membiarkan para orang tua menerapkan gaya hidup pemborosan yang tidak sehat. Buat saya ya maklum sajalah, mereka orang-orang KPAI kan juga merupakan orang-orang yang berduit dan bergaya hidup mewah yang sama sekali tidak sederhana, dan itu adalah cirri khas gaya hidup kebanyakan orang kaya di Indonesia. Gengsi gede-gedean, sok ng-Artis, dan sok terkenal dan suka pamer.

Nah, padahal gaya hidup yang seperti inilah yang mengakibatkan anak-anak Indonesia menjadi bodoh, nakal dan urakan, karena mereka sudah dibiasakan dengan gaya hidup yang sama sekali tidak sehat.

Jadi yang salah siapa? Jelas para orang tuanya sendiri dong, kok nyalahin Ariel, Luna Maya dan Cut Tari, lha wong para orang tua dan para pendidik di negeri ini sudah gila dengan harta dan kekayaan, serta gengsi-gengsian, mereka sudah menyepelekan hal-hal kecil yang justru dari masalah kecil itulah menjadi masalah yang besar.

Saya percaya bagi para muslim di negeri ini juga sudah tau dalilnya, bahwa terjadinya dosa besar itu karena akibat meremehkan dosa yang kecil. Dan anak-anak Indonesia sepertinya sudah terbiasa dengan gaya hidup seperti itu.

Pepatah jawa mengatakan kacang ora bakal adoh teko lanjarane” /kacang (kacang panjang) itu tidak akan jauh dari kayu pengaitnya/”. Artinya perbuatan yang ditiru anak itu tidak akan jauh dari perbuatan orang tuanya.

Oke, peran media masa, media elektronik, media komunikasi dan lingkungan memang memiliki dampak terhadap gaya atau pola pikir seseorang, termasuk anak-anak, namun semua tetap berpulang kepada bagaimana kedua orang tua yang melahirkan mereka itu mendidiknya.

Bahkan dalam hadist lain dijelaskan ketika seorang anak dilahirkan, maka ketika dia dewasa kelak akan menjadi seperti yang diinginkan orang tuanya, apakah menjadi yahudi, ataukah nasrani”. Hadist ini jelas-jelas menggambarkan bahwa seorang anak itu akan besar sesuai dengan didikan yang diberikan oleh kedua orang tuanya.

Intinya, buat saya dan para pembaca setia Blog saya, jangan pernah menyalahkan atau mengkambing hitamkan orang lain atas kesalahan yang terjadi pada diri kita dan keluarga kita. Lebih baik mengkoreksi betapa banyak kesalahan dan dosa yang ada pada diri kita, lantas bagaimana cara terbaik untuk memperbaikinya.

Saya jadi heran, apa sih fungsi dan peran FPI dan KPAI untuk masyarakat Indonesia ?

Nyari ketenaran? nyari muka? Dan pastinya ujung-ujungnya juga duit..! Sungguh kehormatan benar-benar cuma senilai dengan selembar uang.

Saya bahkan pernah menyaksikan seorang gadis berpakain seksi dengan menggunakan tank top dan hotpaint, lantas ada seorang ibu muda yang menegurnya, agar gadis tersebut mengganti pakaiannya dengan yang lebih sopan, namun apa jawaban gadis tersebut?

“Hello ini Jakarta, kuno banget sih buk”?

Anehnya, gadis tersebut didampingi oleh kedua orang tuanya dan bahkan kedua orang tua gadis tersebut memandang sinis kepada ibu muda yang menegurnya. Hmmmm….beginilah gaya hidup orang-orang berduit di negeri ini.

Soal UU Anti Pornografi dan Pornoaksi.

Sebenarnya UU ini arahnya kemana ya? Saya benar-benar bingung. Batasannya sampai dimana?

Kenapa kalau pemerintah benar-benar berniat untuk memberantas aksi pornografi dan pornoaksi, tapi kok malah membiarkan para Rumah Produksi Perfilman Indonesia memproduksi film-film cabul, film-film porno yang dibalut dengan judul Horor ?, dan ironisnya kenapa bisa dengan mudah tayang di seluruh bioskop-bioskop kenamaan di negeri ini? Jadi apa fungsi UUAPP dan Lembaga Sensor Film Indonesia, serta KPAI ?

Yang lebih miris lagi, saya menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri, ada beberapa keluarga bersama anak-anak mereka yang masih berusia belasan tahun, bahkan ada yang masih duduk di bangku SD, keluar dari gedung bioskop yang baru saja menayangkan film beradegan dewasa yang banyak dipertunjukan dengan aksi ciuman dan adegan ranjangnya. Masyaallah…!

Diseluruh dinding kaca bioskop tersebut, terpampang pose para bintang film Indonesia dengan pakaian seronok yang mengundang syahwat para pria tentunya, dan disana juga berkeliaran anak-anak belia yang masih sekolah di tingkat dasar dan menengah.
Lantas, sekali lagi saya bertanya, apa sesungguhnya peran orang-orang KPAI dan bagaimana system kerjanya ?

Kenapa mereka begitu peduli dan menyalah-nyalahkan Ariel cs atas perbuatan zina ketiganya lalu membiarkan anak-anak Indonesia pergi menyaksikan pertunjukan film di bioskop yang menayangkan aksi ciuman dan adegan ranjang. Apa benar dampak video mesum ariel cs sebegitu hebatnya? Yang konon katanya pencabulan terhadap anak-anak remaja dan anak-anak dibawah umur meningkat sekian persen setelah beredarnya video mesum Ariel, Luna Maya dan Cut Tari.

Opo bener iku pak KPAI? Darimana tahunya kalau para pelaku pencabulan tersebut selesai nonton Videonya Ariel cs, kok warga disekitar saya malah jijik melihat adegan fulgar seperti itu, namun justru malah bergairah menyaksikan adegan semi yang seperti ditayangkan dalam film-film horror Indonesia? Sing bener endi iki?

Jawabannya adalah, dengan mengurusi dan mengomentari soal kasus Ariel kan bisa jadi ikut terkenal, dan tentunya meningkatkan gengsi karena masuk dalam acara infotainment, dan tentunya akan ada bayaranya juga lho, kan uangnya bisa dipakai buat ke bioskop, atau karaoke, atau nge-dugem, bisa juga buat nge-beliin BB anak-anak saya tho yo, supaya mereka gak perlu jauh-jauh ke warnet buat online. Takutnya kalau ke warnet nanti anak-anak malah ngliatin situs porno, mending di rumah aja liatnya kan ? kan pak’e juga bias ikut liat ..heheh .

Piye to mas ki kok gak ngerti juga.

Para orang tua di negeri ini bahkan bangga ketika para putra/inya mendaftarkan diri menjadi artis dan selebritis, yang jelas-jelas dunia hiburan itu banyak sekali mudhorotnya (bahayanya), mereka bangga karena menjadi terkenal dan banyak uang, bahkan itu adalah sekecil-kecilnya remehnya dosa yang diremehkan,maka tidak heran jika mereka kelak juga akan melakukan aksi berbahaya yang merusak moral.

Anehnya lagi masyarakat Indonesia justru bangga mengidolakan para artis yang memang tidak pernah bersekolah di sekolah yang mengedepankan ajaran moral di negeri ini. Karena memang tidak ada. Tidak pernah sekolah kepribadian, jadi kalau perbuatan mereka banyak yang menyimpang dari ajaran agama manapun itu sudah otomatis, gak pakai remote bahkan..!

Boleh saja mengidolakan artis, namun tidak harus di contoh perbuataannya bukan ?
Jadi rasanya aneh saja kalau menyalahkan Ariel cs. Bukannya keputusan dalam menentukan suatu sikap itu berada dalam hati dan pendirian masing-masing orang ? kok menyalahkan orang lain atas keburukan yang terjadi dalam diri kita ? emangnya lagi mabok ya ?
Inilah potret gaya hidup di negeri ini.

Dan sungguh, demi ketenaran, kekayaan dan rasa gengsi mereka akan meremehkan dosa dan kesalahan kecil. Demi mendapatkan segalanya, bahkan mereka siap menjual dirinya.
Demi ketenaran bahkan mereka akan membunuh saudar-saudaranya sendiri …!


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?
  • Facebook
  • TwitThis
  • Google

One Response

  1. Rickie Fayson 2:41 AM on October 22nd, 2010

    Uh oh.. I can’t see the whole post for some reason?

    [Reply]

add your response